Kamis, 05 April 2018

Seni Bersedih

Kata orang, menulislah saat hatimu sedang tak enak. Dulu kutak percaya. Tapi sekarang sudah. Aku sudah percaya.

Entah kenapa, daya imajinasi dan kreativitas otak kita memang cenderung mengalir deras kala hati sedang tak enak. Seketika ada banyak kosa kata yang terlintas. Seketika ada banyak hal yang ingin diulas.

Seperti sekarang misalnya. Ada sesuatu yang terjadi kemarin, yang membuat suasana hatiku agak terusik. Tak perlulah kuceritakan di sini karena hanya akan menambah pelik suasana hatiku.

Kenyataan demi kenyataan yang kudapati, sukses membuat batinku terusik. Ada hal yang rasanya ingin dikeluarkan. Sesuatu semacam cairan mungkin. Yang biasanya mengalir dari ujung bagian dalam kedua bola mata.

Tapi kemudian, ia urung. Aku paling benci suasana ini. Jika memang harus menangis maka menangislah saja. Tapi dia malah tertahan dan enggan untuk keluar. Sementara dari dalam diriku terlanjur ada dorongan luar biasa yang menyuruhnya keluar. Ah, sangat menyebalkan.

Rasanya seperti saat kau ingin teriak sekencang-kencangnya tapi harus kau tahan karena sedang ada rapat penting dengan petinggi. Terserahlah petingginya petinggi apa. Bisa terbayangkan situasinya?

Dan kemudian, inilah yang bisa kulakukan. Memuntahkan semua rasa lewat kata-kata apa saja yang berseliweran di benakku saat ini. Rasanya lumayan. Mengurangi gundah hati walau hanya seinci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar