Rupa-rupanya bahagia memang sederhana. Cukup dengan hal-hal receh yang sepertinya tak berarti apa-apa. Kemarin misalnya. Tetiba dua gadis kecil yang tak lain adalah ponakanku sendiri, datang menghampiri.
Mereka menyembunyikan sesuatu di belakang punggung kecilnya. Jika boleh jujur, sebenarnya aku bisa melihat apa yg mereka sembunyikan lantaran memang tak berhasil tersembunyi dengan sempurna. Kuharap kau bisa maklum, mereka memang baru berkenalan dengan bangku sekolah dasar. Baru kemaren berhenti menyusu. Paham maksudku kan?
Aku bertanya "Apa itu Nak?"
Mereka malu-malu berkata "Hadiah buat Ante" Iya, dalam bahasa Minang, sebutan untuk tante diringkas jadi ante.
Seketika mereka mengeluarkan apa yg sedari tadi berusaha disembunyikan. Wajah mereka memperlihatkan kombinasi perasaan bahagia dan malu. Mungkin karena ini adalah salah satu hal sangat istimewa yg pernah mereka lakukan.
Tentu saja aku langsung mencoba bekerja sama. Kupasang wajah tersurprise yang bisa kutunjukkan. "Waahhh, indah sekalii. Benarkah ini buat ante?" Ujarku dengan mata berbinar. Mereka mengangguk dan terlihat puas dengan responku.
Biar tak penasaran, biar kugambarkan penampakan benda yang mereka sebut hadiah itu. Benda itu terdiri dari susunan stik es krim yang dilem membentuk persegi empat. Berdempet satu dan yang lainnya. Lapisan kedua mulai agak berantakan, agak miring kian-kemari. Lapisan ketiga sudah tidak rata lagi, di beberapa bagian kayu stiknya terlalu banyak hingga tebalnya jadi tak rata. Kemudian terciptalah segi empat tidak rata.
Setelahnya, mereka menempel kertas warna biru mengkilat dengan guntingan berbentuk gambar hati. Awalnya aku tak paham gambar apa itu. Karena bentuknya jelas abstrak. "Ini kupu-kupu juga?" Ujarku. Kebetulan sisi lainnya terdapat satu kupu-kupu berwarna merah mengkilat. Yang ini aku bisa tebak karena memang agak mirip.
Tapi tidak dengan kertas biru itu. Terlalu gemuk untuk seekor kupu-kupu. Tapi aku tak yakin untuk menyebutnya bola, terlalu jauh untuk dipanggil sebuah bola. Kemudian mereka menjawab. "Bukan, itu love" ujar salah satunya.
"Ohh.. wahh cantik sekali" Kuulangi lagi sandiwaraku.
Di bagian tengah, sebagai sentuhan akhir, terdapat sebuah bintang dengan banyak sisi, hingga terlihat seperti bunga. Tapi yang ini bagus, kuyakin bukan tangan mungil mereka yang merakit. Mungkin minta tolong sama ibunya.
Hanya itu. Kira-kira imaginasimu sudah terpancing belum untuk menampilkan bentukan benda itu? Kalau belum, maaf, aku tak punya bahan lagi untuk membantumu. Karena memang hanya itu yang mereka ciptakan. Oh iya, ngomong-ngomong itu lemnya belum kering, masih nampak bagian putih putih dari lem yang terlalu tebal dioleskan.
Aku terus memuji mahakarya mereka. Kemudian mereka mengambil dari tanganku dan berkata "Biar kami keringkan dulu, setelah dijemur, baru kami kasihkan ke ante ya." Ucapnya hampir bersamaan.
***
Bukan tentang bendanya. Kuyakin kalian bisa bayangkan gimana abstraknya benda yang mereka sebut hadiah itu. Tapi buatku.... Sama. Abstrak juga. Hehe.
Poinnya bukan itu. Aku merasa hangat. Ya. Hatiku terasa hangat menerima hadiah itu. Jika kau yang alami, kuyakin kau akan mengerti rasanya.
"Makasih naaak" ujarku sumringah tingkat dewa.
Siang itu, aku bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar