Pernah ga kamu ngerasa ada jarak antara kamu dan kerabat atau tetangga? Maksudnya tu gini. Kita malu mau nyapa duluan, segan mau chat duluan, ga berani mau berkunjung duluan. Bukan karena pengen mutusin hubungan silaturrahim, sama sekali bukan. Tapi murni karena malu.
Pernah ga kamu kayak gitu? Kalau aku sih jangan ditanya bos. Bukan pernah lagi, sering malahan.
Tapi kemudian malaikat tak bersayap yang biasa kupanggi ibu bilang gini "Bayangin kamu yang berada di posisi mereka. Kamu yang lagi pergi merantau. Kira-kira gimana rasanya saat ga satupun dari orang rumah yang berusaha menghubungimu? Ga satupun yang pengen tau kabar kamu?"
Gimana kira-kira nasib segumpal daging yang kau sebut hati itu akan menanggapinya? Biasa ajakah, atau binasa banget kah? Pasti, pilihan kedua jawabannya.
Pasti hatimu bakal sedalamnya merasa kecewa. Ga ada lagi yang peduli, ga ada lagi yang menanti, ga ada lagi yang merindui. Pasti itu yang terpatri dipikiranmu. Padahal nyatanya apa? Kami di rumah malu padamu, segan untuk memulai bertanya.
Nah, ya jadinya gitu deh. Kamunya di sana salah paham, kaminya di sini juga jadi serba salah. Makanya, malu itu harus ada tempatnya, kalau ga,bahkan malu bisa membinasakan. Ternyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar