Akhir-akhir ini tidur nyenyak kotoran telingaku sering terusik oleh adanya ungkapan 'rindu itu berat'. Kuyakin hal yang sama juga terjadi pada telingamu. Jika tak percaya, coba saja tanyakan. Tapi jangan di depan orang banyak, kutakut orang akan mengatai urat sarafmu putus nanti.
Kuakui, pepatah itu ada benarnya juga. Memang berat menahan rindu yang sejatinya entah berapa kilo beratnya. Jujur, jika ada yang tahu berapa kilo beratnya rindu, sudilah kiranya memberitahuku. Agar bisa kucarikan penawar yang sepadan dengannya. Agar para perindu di luar sana tak menderita sampai ke tulang menahan deritanya.
Tapi kemudian, seorang sahabat memberitahuku. Ternyata ada yang lebih berat daripada rindu. Kutahu kau terkejut, tapi tak usah selebar itu membuka mulut. Nanti lalat hijau malah tergoda untuk mampir.
Seorang sahabat pernah berkata begini "Bukan rindunya, tapi mengistiqomahkannya yang berat" ujarnya. Yang di aku terdengar seperti madu berlumur rawit dan merica. Manis tapi mengiris. Memukau tapi silau.
Benar sekali rupanya. Orang bisa dengan mudah merasai rindu. Aku juga. Kubertaruh, kau juga sama. Kendati begitu, tak banyak yang sanggup mengistiqomahkannya. Biarkan kubercontoh. Ketika kau kehilangan seorang sahabat yang sebut saja ditelan lubang cacing, melayang di segitiga bermuda, dan kemudian lenyap. Misalnya.
Kira-kira hari pertama kau rindu tidak? Ya pastilah. Hari kedua? Masih. Bulan pertama? Rindu. Makin rindu malah. Tahun pertama? Tetap rindu kok. Oke, dua tiga tahun kemudian? Ya masih, masih rindu. Baik. Aku mengerti rasamu. Aku juga pernah.
Kutanya dulu. Sepanjang dua tiga tahun itu kamu tak menafikkan bahwa ada orang baru di hidupmu kan? Mustahil rasanya jika selama kurun waktu itu kau hanya hidup dengan lalat hijau atau jangkrik malam. Apa kau sependapat? Nah, di tahap inilah keistiqomahan rindu mulai diuji. Saat di mana rindumu mulai diambil alih orang baru.
Bisa tidak kau memelihara rindu itu selama masa yang entah berapa lamanya. Sepuluh tahun mungkin, atau tiga puluh tahun, lima puluh atau bahkan mungkin seumur hidup? Kuyakin, tak banyak yang bisa. Pun aku sendiri meragukan diriku sekarang. Karena berat, berat sekali memelihara rindu. Mengistiqomahkannya maksudku. Dan ternyata. Aku baru sadar.
Waktu adalah pemilik kuasa sekarang. Dia yang secara perlahan akan mengikis rindu. Dia yang perlahan akan memudarkan warna rindu. Hingga akhirnya, kita bahkan tak ingat lagi. Bahkan tak merasai lagi. Maka kubersimpul. Bukan rindu yang berat. Tapi memeliharanya.
@di kamar sunyi, ditemani ingus dan hasrat untuk bersin yang menggebu.
Ingua
BalasHapus